Senin, 25 Juni 2012

Batuan Malihan, Nama


Penamaan 

Oleh : Doddy Setia Graha


Berbeda dengan batuan beku yang penamaannya berasal dari nama tempat atau mineralogi, penamaan batuan malihan lebih banyak menunjukan pada ciri struktur dan mineralogi.
Di sini perlu diingat pada mulanya ialah beberapa kelompok dasar, sedangkan pada tahap berikutnya dimana perlu dibubuhkan mineral kristisnya atau akhiran tertentu seperti meta atau ortho atau para yang ditulis dengan tanda hubung. Akhiran meta dipakai bila tekstur batuan asal yang sepesifik masih tersimpan, sehingga nama batuan memakai nama batuan asal ditambah kata meta, seperti gabro-meta dan sebagainya.
Beberapa batuan malihan tanpa tekstur foliasi, sebagai berikut :

a.      Hornfel (batutanduk)
Batuan ini terbentuk dalam bagian dalam daerah kontak sekitar tubuh batuan beku. Pada umumnya merupakan rekristalisasi batuan asalnya, tak ada foliasi tetapi batuan halus dan padat.

b.      Kuarsit
Batuan ini adalah terdiri dari kuarsa yang terpadatkan atau disementasi oleh silika kristalin, merupakan batuan yang kompak, membelah melalui butiran kuarsa tanpa foliasi. Terjadi karena malihan regional dari batupasir kuarsa pada semua derajat malihan.

c.       Marmer
Marmer terdiri dari mineral kalsit, terjadi proses malihan regional atau rekristalisasi dari batugamping. Batuan ini padat, kompak tanpa foliasi, terbentuk karena kontak.
Beberapa batuan malihan berfoliasi adalah hasil malihan regional. Urutan-urutan macam batuan di bawah ini sedikit banyak merefleksikan derajat malihanisme, yaitu :

a.      Sabak (slate)
Peralihan dari sedimen yang berubah ke metamorfik, pada derajat metamorfosa rendah dari lempung. Sangat halus dan keras, memperlihatkan belahan-belahan yang rapat dimana mulai terdapat daun-daun mika halus, memberikan warna/kilap, juga klorit dan kuarsa mulai ada.


b.      Filit (phyllite)
Derajat metamorfosa lebih tinggi dari pada sabak, dimana daun-daun mika dan klorit sudah cukup besar, dan memberikan belahan filit yang khas, berkilap sutera pada pecahan-pecahan. Mulai terdapat mineral lain, seperti turmalin.

c.       Sekis (schist)
Batuan yang paling umum yang dihasilkan metamorfosa regional, sangat khas adalah kepingan-kepingan yang jelas dari mineral-mineral pelat, seperti mika, talk, klorit, hematit dan mineral-mineral yang bersifat serabut. Juga mengandung mineral feldspar, augit, horonblende, garnet, epidot. Tergantung dari batuan asal (lempung, basal, gamping) dan berbagai macam sekis terjadi dan dinamakan menurut mineral yang terjadi.

d.      Amfibolit (amphibolite)
Sama dengan sekis horonblende, tetapi foliasi tak berkembang baik. Hasil dari metamorfosa regional batuan basal atau gabro (gang, sil, stok, ) berwarna kelabu, hijau, atau hitam dan mengandung mineral-mineral epidot, augit hijau, biotit dan almandin.

e.       Gneis
Mewakili metamorfosa regional derajat tinggi, berbutir kasar, mempunyai sifat banded karena gneissosity. Terdiri dari mineral-mineral yang mengingatkan kepada batuan beku seperti kuarsa, feldspar dan mineral mafik, jalur dengan mineral-mineral pelat atau serabut seperti klorit, mika, horonblende, kianit, staurolit, silimanit dan wolastonit. Batuan ini dapat berasal dari batuan beku seperti granit, gabro atau diorit, ataupun batuan sedimen seperti serpih, dan napal.

Rabu, 20 Juni 2012

Kuarsa, Penyebaran

KUARSA

Oleh : Doddy Setia Graha

1.     Penyebaran

Kuarsa ditemukan di banyak negara pada berbagai lingkungan geologi. Produsen utama kristal kuarsa alami adalah Amerika Serikat (terutama Arkansas) dan Brasil. Kuarsa alam jarang digunakan seperti yang ditemukan di alam (terutama dalam aplikasi listrik), kecuali sebagai batu permata. Sumber utama untuk kristal kuarsa untuk industri adalah Kanada, Brasil, Jerman, Afrika Selatan, Venezuela dan Madagaskar.
Penyebaran kuarsa di Indonesia tersebar diberbagai daerah seperti terlihat pada Tabel 1.


Tabel  1. Penyebaran kuarsa di beberapa provinsi
Provinsi
Lokasi
Bangka Belitung
Lepar Pongok, Gantung, Tanjung Pandan
Kepulauan Riau
Karimun, Natuna, Lingga
Lampung
Desa Margosari, Desa Panggungrejo, Desa Sukamulya, Pekon Sukamulya, Desa Bardasuka, Desa Branti, Desa Neglasari, Desa Andiluwih
Kalimantan Tengah
Kotawaringin Barat, Sukamara
Nusa Tenggara Barat
Sekotong, Pujut, Keruak, Taliwang, Plampang, Lape, Moyo Hulu, Sape, Belo, Wawo
Nusa Tenggara Timur
Manggarai, Timor Tengah Selatan
Maluku
Desa Seith, Tanjung Kayu Putih
Papua
Bukit Aikima, Asolokobal
                        Sumber : Dari berbagai sumber

Rabu, 30 Mei 2012

Jenis Tanah


JENIS TANAH

Oleh : Doddy Setia Graha


1. Tanah Laterit
Tanah laterit adalah tanah jenis kaya zat besi dan aluminium, terbentuk di daerah tropis yang panas dan basah. Hampir semua laterit yang berkarat-merah karena oksida besi. Prosesnya mengembangkan dengan intensif dari pelapukan yang sudah berjalan lama terhadap batuan induk. Pelapukan tropis (laterization) adalah sebuah proses berkepanjangan berupa pelapukan kimiawi yang menghasilkan berbagai macam diketebalan, kelas, kimia dan mineralogi bijih tanah yang dihasilkan. Sebagian besar wilayah tanah dengan laterit.

Laterit adalah pembentukan permukaan kaya zat besi dan aluminium, dibentuk di tempat yang panas dan basah pada daerah tropis. Hampir semua laterit yang berkarat-merah karena oksida besi. Meliputi laterit yang tebal pada daerah stabil, laterit pada dataran tinggi mencapai 30 m tebalnya. Laterit dapat berupa lunak dan mudah patah menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, dan tahan secara fisik. Batuan basement yang terkubur di bawah lapisan tebal dan jarang terkena cuaca. Tanah laterit membentuk bagian paling atas penutup laterit.

Secara historis, laterit dipotong menjadi bata-seperti bentuk dan digunakan dalam membangun monumen dan candi Angkor Wat dan situs Asia Tenggara berubah menjadi hamparan kuil yang terbuat dari laterit, batu bata dan batu.

Tebal lapisan laterit yang berpori dan sedikit permeabel, sehingga lapisan dapat berfungsi sebagai akuifer di daerah pedesaan. Laterit tersedia secara lokal yang digunakan dalam larutan asam, diikuti oleh presipitasi untuk menghilangkan fosfor dan logam berat di instalasi pengolahan limbah.
Laterit adalah sumber dari bijih aluminium yang sebagian besar dalam mineral lempung dan hidroksida, gibbsite, boehmite dan diaspore yang menyerupai komposisi bauksit. Bijih laterit juga adalah sumber utama awal nikel .

2. Pembentukan
Pembentukan  tanah laterit pada iklim tropis (laterization) adalah sebuah proses berkepanjangan pelapukan kimiawi yang menghasilkan berbagai macam diketebalan, kelas, kimia dan mineralogi bijih tanah yang dihasilkan. Produk awal pelapukan batuan dasarnya adalah kaolinisasi disebut saprolit (Gambar 1.). Sebuah periode laterisasi aktif diperpanjang dari sekitar periode Tersier Tengah sampai Kuarter Tengah (35 hingga 1,5 juta tahun lalu). Analisis statistik menunjukkan bahwa transisi di level rata-rata dan varian dari 18O selama Pleistosen Tengah. Hal ini adalah perubahan mendadak secara global dan terutama merupakan peningkatan massa es. Pada waktu yang sama terjadi penurunan mendadak dalam suhu permukaan laut. Kedua menunjukkan perubahan pendinginan global secara tiba-tiba. Tingkat laterisasi akan menurun dengan pendinginan tiba-tiba bumi. Pelapukan di iklim tropis berlanjut hingga hari ini, di tingkat penurunan.




Gambar 1. Profil vertikal tanah laterit.
A Mewakili tanah; B mewakili laterit, sebuah regolith; C mewakili saprolit dengan regolith lebih banyak; D merupakan batuan dasar

Laterit terbentuk dari pencucian batuan induk sedimen seperti batupasir, lempung, batugamping, batuan metamorf antara lain sekis, gneis, migmatit serta batuan bekunya adalah granit, basalt, gabro, peridotit, dan mineralisasi bijih  yang meninggalkan lebih larut ion, terutama besi dan aluminium. Mekanisme reaksi kimia terhadap mineral utama di bawah kondisi temperatur tinggi  dari wilayah lembab beriklim hujan. Sebuah hal penting dalam pembentukan laterit adalah pengulangan basah dan musim kering. Batuan yang tercuci oleh air hujan meresap selama musim hujan, larutan yang mengandung ion-ion yang dihasilkan tercuci dibawa kepermukaan oleh proses kapiler selama musim kemarau. Ion-ion ini terbentuk yang larut dalam senyawa garam yang kering pada permukaan. Garam-garam tersebut dicuci selama musim hujan berikutnya. Pembentukan laterit biasanya pada topografi rendah dan dataran tinggi yang mencegah erosi dari penutup permukaan.

Komposisi mineralogi dan kimia laterit tergantung pada batuan induknya. Laterit terutama terdiri dari kuarsa dan oksida titanium, zirkon, besi, timah, aluminium dan mangan, yang tetap selama pelapukan. Laterit bervariasi secara signifikan sesuai dengan, iklim lokasi dan kedalaman. Mineral utama untuk nikel dan kobalt dapat berupa oksida besi, mineral lempung atau mangan oksida. Besi oksida berasal dari batuan beku mafik yang kaya zat besi, bauksit berasal dari granit. Laterit Nikel terjadi di zona bumi yang mengalami beriklim tropis, pelapukan batuan ultramafik yang mengandung mineral ferro-magnesian olivin, piroksen  dan amphibol.

Pada Mesozoikum sampai Tersier (251 – 65 juta tahun) busur laut dan tabrakan benua. Zona menjalani laterisasi di New Kaledonia, Kuba, Indonesia dan Filipina. Laterit mencerminkan kondisi cuaca masa lalu. Laterit yang ditemukan di masa kini daerah non-tropis adalah produk dari zaman geologi, dahulu daerah yang dekat khatulistiwa. Laterit terjadi di luar daerah tropis dianggap sebagasi indikator dari perubahan iklim, pergeseran benua atau kombinasi dari keduanya.

3. Jenis – Jenis Tanah
Indonesia adalah negara Kepulauan dengan daratan yang luas dengan jenis tanah yang berbeda-beda. Berikut ini adalah macam-macam / jenis-jenis tanah yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, antara lain :
  • Tanah Humus
Tanah humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat.
  • Tanah Pasir
Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerik.
  • Tanah Alluvial / Tanah Endapan
Tanah aluvial adalah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.
  • Tanah Podzolit
Tanah podzolit adalah tanah subur yang umumnya berada di pegunungan dengan curah hujan yang tinggi dan bersuhu rendah / dingin.
  • Tanah Vulkanik / Tanah Gunung Berapi
Tanah vulkanis adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi letusan gunung berapi yang subur mengandung zat hara yang tinggi. Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi.
  • Tanah Laterit
Tanah laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya akan unsur hara, namun unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi. Contoh : Kalimantan Barat dan Lampung.
  • Tanah Mediteran / Tanah Kapur
Tanah mediteran adalah tanah sifatnya tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur. Contoh : Nusa Tenggara, Maluku, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
  • Tanah Gambut / Tanah Organosol
Tanah organosol adalah jenis tanah yang kurang subur untuk bercocok tanam yang merupakan hasil bentukan pelapukan tumbuhan rawa. Contoh : rawa Kalimantan, Papua dan Sumatera.

Selasa, 29 Mei 2012

Isu Sumber Daya Alam


Isu Sumber daya Alam


Oleh Doddy Setia Graha

Ada beberapa isu utama dalam pemberdayaan sumber daya alam yang merupakan anugerah Allah yang tidak terkira, antara lain :
¨      Isu pertama dapat dikemukakan pertanyaan mengenai “berapa lama dan dalam keadaan bagaimana kehidupan manusia dapat berlangsung terus di bumi ini dengan persediaan tertentu dari sumber daya yang melekat di suatu tempat (insitu resource), yang dapat diperbaharui tetapi dapat rusak, serta terbatasnya sistem lingkungan hidup”. Dalam hal fungsi lingkungan alam mempunyai peranan ganda yaitu sebagai sumber bahan mentah dan sebagai pengolah limbah secara alami, serta sebagai sumber kesenangan (amenity).
¨      Isu kedua mengenai lokasi persediaan yang diketahui, bila dipergunakan terus menerus akan habis. Masalah ini berhubungan erat dengan bahan galian yang sifatnya tidak dapak dapat diperbaharui, sekali pakai langsung habis.
¨      Isu ketiga adanya pengalaman sejarah mengenai pergeseran dari sumber daya yang dapat diperbaharui ke sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Pergeseran ini terjadi di batu bara, barang ini menjadi semakin penting setelah persediaan arang kayu semakin sedikit serta harganya naik.
¨      Isu keempat berhubungan dengan kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam pada masa yang lampau dimana banyak tindakan yang tidak bijaksana, berpandangan dekat, eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam. Kebijakan ini berhubungan erat dengan faktor pemerintah dan tingginya permintaan masyarakat akan kebutuhan sumber daya alam seperti bahan galian. Semakin pesatnya pembangunan kebutuhan akan bahan galian akan meningkat pula serta jenisnyapun semakin beragam.
¨      Isu kelima peranan penting sumber daya alam sebagai faktor-faktor utama bagi pertumbuhan ekonomi. Bangsa Banten sejak zaman Orba (Orde Baru) sampai saat ini masih menggantungkan pertumbuhan ekonominya pada sektor migas (minyak dan gas). Sektor ini identik dengan kegiatan penambangan yang berhubungan erat sekali dengan sumber daya alam.
¨      Isu keenam semakin memburuknya keadaan lingkungan sebagai akibat kemiskinan yang berkelanjutan dan pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Kedaan krisis ekonomi saat ini memburukan kondisi lingkungan dan keadaan masyarakat. Bila keadaan tersebut tidak cepat ditangani akan menyebabkan memburuknya lingkungan akan mengurangi kesejahteraan masyarakat.

Pengembangan Wilayah


Pengembangan Wilayah

Oleh : Doddy Setia Graha

Dengan memperhatikan unsur pendukung pengembangan wilayah, yaitu informasi geologi dan potensi sumber daya, maka perencanaan akan lebih menuju kepada pengisian tata ruang wilayah yang akan dikembangkan. Aspek lain yang patut diperhatikan dengan mengingat pengembangan potensi sumber daya adalah masalah daya dukung wilayah dan aspek lingkungan.

Daya dukung wilayah akan memberikan batasan sejauh mana suatu wilayah dapat dikembangkan dengan memperhatikan berbagai faktor keterbatasan. Sedangkan aspek lingkungan memberikan suatu wawasan terhadap akibat yang mungkin timbul bilamana pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya alam melewati batas ambang. Aspek daya dukung dan aspek lingkungan merupakan faktor-faktor kendala pembatas yang mungkin terjadi sebagai akibat pemanfaatan potensi sumber daya alam yang berlebihan, terutama sebagai akibat ulah manusia.

Perekonomian yang didasarkan kepada sumber daya alam dapat dicerminkan pada pola tata guna lahannya. Sehingga besaran kuantitatif dan informasi geologi (tata guna lahan) dapat dijadikan indikator konstribusi suatu sektor di dalam perekonomian daerah. Penentuan sektor unggulan dalam menunjang perekonomian serta penerapan teknologi untuk meningkatkan perekonomian perlu diperhatikan dan ditempatkan pada lahan yang sesuai agar tidak mengganggu pengembangan wilayah secara keseluruhan.

Wilayah Banten secara alamiah yang diturunkan dari generasi ke generasi pada saat kini terlihat beberapa pengembangan wilayah, Banten utara merupakan pedataran dengan sektor yang berkembang antara lain perkontoran, pusat niaga, hunian, industri yang keseluruhan merupakan beban berat yang harus dipikul yang penuh resiko dan tangtangan. Banten tengah, terdapat dua daerah ibu kota kabupaten, yaitu Pandeglang dan Rangkasbitung. Wilayah lainnya merupakan daerah yang terbuka dipergunakan sebagai lahan pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan dan lain sebagainya. Banten selatan sebagian besar merupakan daerah yang terbuka kegiatan perekonomian hanya terpaku dari sektor sumber daya alam.

Peta Geologi Lembar Jakarta


Peta Geologi Lembar Jakarta

Oleh : Doddy Setia Graha


Seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia telah dilakukan Pemetaan Geologi secara bersistem oleh Pusat Survey Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang berlokasi di Kota Bandung, Jawa Barat. Berbagai jenis peta telah diterbitkan seperti Peta Geologi, Peta Geologi Kuarter, Peta Kegempaan dan beberapa jenis peta lainnya. Peta-peta tersebut dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan.

Di Jawa Peta Geologinya bersekala 1 : 100.000 sedangkan diluar Jawa bersekala 1 : 200.000. Pada Peta Geologi tersebut telah diinformasikan antara lain penyebaran batuan, struktur, bahan galian serta beberapa hal patut diketahui.

Penjelasan di bawah ini untuk menjelasan isi dari Peta geologi yang termuat dalam Lembar dengan berbagai nama daerahnya. Seluruh Indonesia sudah dipetakan dengan berbargai ukuran sekala.
Contoh Peta geologi (Lembar Jakarta Dan Kepulauan Seribu),Jakarta dibatasi koordinat 106030’ – 107000’ BT dan 6000’ – 6030’ LS, sedangkan Lembar Kepulauan Seribu dibatasi koordinat 106030’ – 107000’ BT dan 5030’ – 6000’ LS. Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu secara administrasi termasuk wilayah DKI Jakarta, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan  Provinsi Banten, Kabupaten Bogor dan Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.

Geomorfologi Daerah Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu dapat dibagi menjadi empat satuan morfologi, yaitu : Daratan Pantai; Kipas Gunungapi Bogor; Daerah pebukitan menggelombang memisahkan daratan pantai utara dengan jajaran gunungapi di selatan; dan Satuan Pegunungan.
Stratigrafi Lembar Jakarta Dan Kepulauan Seribu dengan cekungan sedimentasi tersier di Jawa Barat yang terdiri dari tiga mandala sedimentasi, yaitu Mandala Paparan benua, Mandala sedimentasi Cekungan Bogor dan Mandala Sedimentasi Banten. Mandala Paparan Benua dicirikan oleh endapan paparan berupa batupasir kuarsa, batugamping dan batulempung yang diendapkan dalam lingkungan laut dangkal. Mandala Sedimentasi Cekungan Bogor dicirikan oleh endapan aliran gravitasi yang terdiri dari komponen batuan andesitan-basaltan, tufaa dan batugamping. Mandala ini meliputi Bandung, Bogor dan Pegunungan Selatan. Mandala Sedimentasi Banten pada awal Miosen, endapan sedimennya menyerupai endapan cekungan Bogor, sedangkan pada akhir Tersier mendekati Paparan Benua.

Satuan tertua yang tersingkap adalah Formasi Rengganis (Tmrs) yang berumur Miosen Awal. Formasi ini ditindih secara tidak selaras oleh Formasi Bojongmanik (Tmb) yang berumur Miosen Tengah, sedangkan di bagian timur berkembang Formasi Klapanunggal (Tmk). Formasi ini berhubungan menjemari dengan Formasi Jatiluhur (Tmj). Formasi-formasi tersebut di atas ditindih secara tidak selaras oleh Formasi Genteng (Tpg) yang berumur berumur Pliosen Awal. Formasi Genteng ditindih Formasi Serpong (Tpss) berumur Pliosen Akhir. Formasi Serpong ditindih secara tidak selaras oleh Tufa Banten (QTvb) yang berumur Plio-Plistosen. Tufa Banten ditindih Batuan Gunungapi Muda (Qv) dan Andesit Gunung Sudamanik (Qvas) yang berumur Plistosen. Batuan terobosan yang dijumpai di Lembar ini adalah Basalt Gunung Dago (Tmpb) yang berumur Mio-Pliosen. Endapan termuda permukaan di daerah ini terdiri dari batupasir tufaaan dan konglomerat/Kipas Aluvium (Qav), Endapan Pematang Pantai (Qbr) dan Aluvium (Qa), serta di lain tempat tumbuh Batugamping Koral (Ql).

Struktur yang terdapat pada lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu berupa lipatan, sesar dan kelurusan. Lipatan, dijumpai di bagian tenggara, berupa antiklin, dengan sumbu berarah baratlaut – tenggara, yang melipat Formasi Klapanunggal. Sesar yang dijumpai di daerah ini ada 3 macam, yaitu sesar naik, dijumpai dibagian baratdaya, merupakan kontak antara Formasi Bojongmanik dan Batuan Gunungapi Muda dengan arah baratlaut – tenggara. Sesar geser mengiri dijumpai dibagian baratdaya Lembar yang menyesarkan Formasi Bojongmanik. Sesar turun, dijumpai di bagian tenggara Lembar, berarah baratlaut – tenggara dan memotong Formasi Klapanunggal. Kelurusan ini kemungkinan merupakan zona lemah yang berupa sesar atau kekar. Struktur geologi tersebut di atas, kemungkinan akibat gaya kompresi dengan arah timurlaut – baratdaya.

Sejarah geologi di mulai pada Miosen Awal. Pada Kala itu daerah ini merupakan tepian selatan dari cekungan busur belakang tempat diendapkan Formasi Rengganis oleh arus yang dipengaruhi gayaberat (gravity flows). Kemudian daerah ini mengalami pengangkatan. Pada Miosen Tengah daerah ini merupakan cekungan laut dangkal di bagian timur dan diendapkan Formasi Klapanunggal, yang menjemari dengan Formasi Jatiluhur. Sedangkan dibagian barat berkembang sedimentasi Formasi Bojongmanik. Formasi-formasi tersebut kemudian terangkat, terlipatkan, tersesarkan dan diterobos oleh Basalt G. Dago pada Mio-Pliosen. Pada Pliosen Awal bagian utara daerah ini mengalami penurunan dan berlingkungan laut dangkal (litoral), serta diendapkan Formasi Genteng. Selanjutnya daerah ini terangkat kembali sehingga merupakan daratan, dan terbentuk endapan sungai tua Formasi Serpong. Pengangkatan ini diikuti kegiatan gunungapi, yang menghasilkan Tufa Banten yang terdiri dari batuan gunungapi yang berumur Plio-Plistosen. Pada Plistosen awal terjadi kegiatan gunungapi yang menghasilkan Batuan Gunungapi Muda dan terjadi parasit, yang menghasilkan Andesit Sudamanik. Sedangkan ditempat lain terjadi genanglaut (atau mjungkin penurunan) sehingga memungkinkan tumbuhnya batugamping koral yang terus tumbuh sampai sekarang. Hasil kegiatan gunungapi di bagian selatan membentuk morfologi tinggi, akan tetapi akibat proses erosi dan gerakantanah maka terbentuk endapan kipas aluvium.

Sumber daya mineral yang ada berupa batugamping, lempung, pasir, kerikil andesit basalt dan mungkin minyak bumi. Batulempung dan batugamping telah digunakan untuk pembuatan semen oleh PT. Semen Cibinong dan PT. Kujang. Beberapa data pemboran perusahaan minyak, menunjukkan adanya minyak bumi.